Darah Tinggi Dalam Kehamilan, Waspadalah Sist!

Tokoobatherbal23.com Bagi kaum hawa yang saat ini sedang mengalami suatu masa yang disebut masa kehamilan, selamat ya, karena sebentar lagi jadi ibu. Namun tahukan sis, kadang hamil juga mengalami beberapa masalah lo, misalnya badan tidak nyaman, dan yang cukup riskan adalah darah tinggi dalam kehamilan. Nah, untuk mengetahui seperti apa darah tinggi dalam kehamilan, ikuti informasi berikut ini.

Tidak semua wanita menjalani masa kehamilan dengan lancer alias baik-baik saja. Ada saja hal yang bisa mengganggu kondisi kesehatan daripada ibu hamil. Salah satunya adalah terkena tekanan darah tinggi atau hipertensi.

Darah tinggi dalam kehamilan sebenarnya hal yang umum terjadi pada ibu hamil. Sekitar 10 persen ibu hamil mengalami kondisi ini saat hamil. Dengan penanganan yang baik, darah tinggi tidak akan berkembang atau membahayakan dan akan hilang setelah kelahiran. Namun jika dibiarkan, darah tinggi bisa menyebabkan kondisi praeklamsia yang disertai adanya protein dalam urine.

Darah Tinggi Dalam Kehamilan Terdiri Dari Beberapa Jenis

Seorang wanita dikatakan mengalami tekanan darah tinggi pada kehamilan jika tekanan darahnya di atas 140/90 mm Hg. Ada beberapa jenis hipertensi (darah tinggi dalam kehamilan), antara lain hipertensi kronik, hipertensi kronik dengan praeklamsia, hipertensi gestasional, praeklamsia dan eklamsia.

Hipertensi kronik. Jika hipertensi terjadi sebelum Anda hamil atau lima bulan sebelum hamil, maka kondisi tersebut disebut hipertensi kronik. Kebanyakan wanita tidak mengetahui dirinya mengalami hipertensi kronik karena memang tidak menyebabkan gejala. Tanpa disadari hal tersebut akan terbawa ketika Anda hamil.

Hipertensi kronik dengan praeklamsia. Ini adalah kondisi ketika hipertensi kronik tidak ditangani dengan baik atau telah memburuk sehingga lanjut hingga saat hamil. Protein juga ditemukan pada urine Anda.

Hipertensi gestasional. Anda mengalami hipertensi jenis ini ketika tekanan darah Anda meningkat setelah lima bulan kehamilan. Tidak ada kandungan protein pada urine atau tanda-tanda rusaknya organ pada tubuh ketika Anda mengidap hipertensi gestasional.

Praeklamsia. Tiga kondisi yang telah disebutkan di atas berpotensi berubah menjadi preeklamsia, terutama jika tidak ditangani dengan benar. Kondisi ini adalah adanya tekanan darah tinggi yang menyebabkan rusaknya organ pada tubuh dan ditemukannya protein dalam urine. Biasanya kondisi ini terjadi setelah lima bulan kehamilan.

Tanda-tanda Anda masuk ke tahapan ini adalah merasakan sakit kepala yang tidak tertahankan, nyeri perut bagian atas sebelah kanan, mual, muntah, sesak napas, penglihatan memudar, jumlah urine menurun, kadar trombosit menurun, atau organ hati tidak berfungsi dengan baik.

Eklamsia. Eklamsia terjadi ketika ibu hamil dengan kondisi praeklamsia mengalami kejang-kejang. Ini adalah kondisi terparah terkait darah tinggi dalam kehamilan.

Praeklamsia lebih berpotensi terjadi pada wanita yang baru pertama kali hamil, mengandung pada usia muda (di bawah 20 tahun) atau mengandung pada usia tua (di atas 40 tahun), memiliki ibu (kandung atau mertua) atau saudara dengan riwayat penyakit darah tinggi terkait kehamilan, memiliki kelebihan berat badan, mengandung bayi kembar, atau memiliki riwayat penyakit kronis seperti tekanan darah tinggi, diabetes, atau masalah ginjal.

Efek Samping Negatif Terhadap Bayi Anda

Darah tinggi yang tidak diobati dengan baik bisa berdampak negatif bagi bayi dan Anda sendiri.

Aliran darah ke plasenta berkurang. Kondisi ini bisa membuat bayi dalam kandungan tidak mendapat cukup oksigen dan nutrisi.

Pertumbuhan janin terhambat. Janin yang tidak cukup menerima oksigen dan nutrisi bisa menghambat proses pertumbuhan janin, bayi lahir dengan berat badan yang rendah, atau lahir secara prematur.

Kelahiran prematur. Demi menyelamatkan nyawa Anda dan si Kecil, kadang dokter akan menyarankan kelahiran bayi secara prematur. Caranya dengan jalan induksi atau operasi caesar. Hal ini dilakukan untuk mencegah eklamsia dan komplikasi lainnya.

Abrupsio plasenta. Ini adalah kondisi ketika plasenta terpisah dari dinding dalam rahim sebelum proses persalinan. Jika hal ini terjadi, plasenta Anda akan rusak. Anda juga akan mengalami pendarahan yang hebat. Kedua hal ini bisa membahayakan nyawa Anda dan si Kecil.

Bayi meninggal dalam kandungan. Kondisi ini bisa saja terjadi pada masa hamil lima bulan atau lebih. Bayi meninggal dalam kandungan karena tidak mendapatkan hal-hal yang dibutuhkan, seperti oksigen dan nutrisi, selayaknya bayi yang dikandung oleh ibu dengan tekanan darah normal.

Berkembangnya penyakit kardiovaskular. Jika Anda sudah sampai pada tahap praeklamsia, maka Anda berisiko terkena penyakit kardiovaskular setelah melahirkan, khususnya jika Anda melahirkan bayi secara prematur. Namun Anda bisa meminimalisasi risiko dengan menjalani gaya hidup sehat usai melahirkan.

Obati Hipertensi Dengan Baik dan Benar

Jika Anda terkena darah tinggi saat hamil, jaga kesehatan Anda dengan baik dan benar. Rutin memeriksakan diri ke dokter kandungan agar kondisi Anda tetap terjaga.

Ketika Anda menderita hipertensi, dokter akan memberikan obat untuk menurunkan tekanan darah Anda. Anda tidak perlu khawatir obat tersebut akan memengaruhi janin Anda karena ada beberapa obat penurun tekanan darah yang aman untuk dikonsumsi oleh ibu hamil.

Ikuti pula semua petunjuk dan dosis minum yang dianjurkan dokter. Jangan berhenti mengonsumsi atau mengganti dosis tanpa pengawasan dari dokter. Hindari pula obat-obatan lain yang menurut kepercayaan bisa membantu menurunkan tekanan darah Anda tanpa bukti ilmiah yang kuat.

Ingat, kehamilan adalah masa rentan terhadap bahaya. Maka dari itu terapkan selalu gaya hidup sehat saat hamil,seperti rutin berolahraga, mengonsumsi makanan yang bergizi, misalnya sayur, buah, daging tanpa lemak, dan susu rendah lemak. Hindari makanan yang mengandung garam tinggi. Hindari pula merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol.

Add Comment